Peneliti INDEF: Indonesia Perlu Perumusan Peraturan Kawasan Industri Halal

Visi-Misi Capres dan Peluang Ekonomi Syariah Indonesia

Diskusi Catatan Awal Tahun “Visi Capres dan Evaluasi Ekonomi Syariah di Indonesia” yang digelar INDEF pada Jumat (12/1/2024).
120x600
a

Jakarta, Otonominews.id – Peneliti Center of Digital Economy and SME, INDEF, Izzudin Al Farras memaparkan sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan dalam memaksimalkan potensi ekonomi syariah di Indonesia.

Hal itu diungkap Izzudin saat berbicara dalam Diskusi Catatan Awal Tahun “Visi Capres dan Evaluasi Ekonomi Syariah di Indonesia” yang digelar INDEF pada Jumat (12/1/2024).

Pertama, Izzudin menilai Indonesia perlu merumuskan peraturan terkait kawasan industri halal untuk memaksimalkan segala potensi ekonomi Syarah yang begitu besar.

“Kita (Indonesia, red) perlu melakukan perumusan peraturan kawasan industry halal termasuk upaya sosialisasi ke masyarakat,” ujarnya.

Selanjutnya, ia menyebut perlunya memasukkan ekonomi syariah ke dalam agenda nasional, ataupun topik-topik penelitian.

“Bagian terpenting (dalam memaksimalkan potensi ekonomi syariah/industri halal) adalah menyiapkan infrasturktur untuk mendukung proses sertifikasi halal,” jelas Izzudin.

Dalam analisanya, Izzudin mengungkapkan perkembangan peringkat SGIE Indonesia mengalami peningkatan. Dari 2019 peringkat SGIE Indonesia ada di posisi 5, kemudian naik ke peringkat 4 pada 2020, dan menjadi peringkat 3 di tahun 2023.

Berdasarkan sektor, peringkat SGIE tertinggi yaitu sektor makanan halal berada pada peringkat kedua di 2023.

“Dari sisi keuangan syariah, meskipun kinerja di Indonesia meningkat tetapi negera lain juga meningkat lebih besar,” kata Izzudin.

Ia menyebut dari sisi fashion dan kosmetik halal juga terus didorong untuk bisa mendunia. Rencana kedepan, Indonesia akan dijadikan sebagai pusat industri halal dunia.

“Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang besar berupa penambahan PDB sebesar 5,1 miliar dolar AS dari ekonomi halal, potensi nilai ekspor produk halal sebesar 15,8 miliar dolar AS, dan potensi 4,5 -5,3 persen global value chain dari sisi produk halal,” paparnya.

Lihat Juga :  Resmikan 12 Titik Air di Madura, Menhan Prabowo: 10 Ribu Warga Pamekasan Tidak Lagi Kekurangan Air Bersih

Menurut Izzudin, besarnya potensi ekonomi syariah di Indonesia juga terlihat dari besarnya jumlah penduduk muslim di Indonesia.

“Potensi lain berupa adanya ZISWAF, bonus demografi, dan tingginya jumlah unbanked dan underbaked,” tuntas Izzudin.

r

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA